Menakjubkan Inilah !! Kisah Nurhayati, Wanita Hamil Selamatkan Ibu Lumpuh di Gempa Donggala


Sesekali Nurhayati terlihat mengerang kesakitan di atas ranjang yang bertuliskan Rumah Sakit Undata, Kota Palu, Rabu (3/10). Badannya tampak terkapar lemah ditutupi selapis sarung.

Wajahnya terlihat masih pucat dan lemas, hembusan nafas panjang seperti orang sesak sering terdengar. Namun baginya sakit dan lelah semuanya terbayar dengan lahirnya sang putri pada Selasa (2/10) melalui operasi sesar.

Nurhayati adalah seorang tenaga kesehatan honorer di salah satu puskesmas di daerah Donggala. Ia sudah mengabdikan diri kurang lebih tiga tahun melayani masyarakat sekitar.

Di balik suka cita atas kelahiran putrinya yang sekaligus anak pertamanya, ada sebuah cerita di peristiwa gempa berkekuatan 7,4 magnitudo yang mengguncang Donggala hingga Palu pada Jumat (28/9) lalu yang tak akan pernah dilupakan Nurhayati.

Sembari memegang erat besi ranjang tempatnya tidur, ia tampak antusias menceritakan kisahnya saat bencana terjadi di Sulawesi Tengah. Saat gempa terjadi, Nurhayati yang hamil tua sedang berada di dalam rumah lantaran diprediksi ia akan segera melahirkan.

Namun tiba-tiba, sore itu goncangan kuat tiba-tiba dirasakanya. Atap dan dinding rumah mengeluarkan bunyi. Ia kemudian berusaha untuk berdiri tanpa bantuan siapapun meski sulit.

“Jumat saat gempa saya berada dalam rumah, saat gempa saya lari ke luar (rumah), ke kerumunan warga,” ujar Nurhayati.


Namun, saat hendak keluar menyelamatkan diri dari rumah, ia teringat kepada ibunya yang juga berada dalam rumah. Ibunya tersebut terkapar lemah karena dalam kondisi lumpuh dan mengalami kebutaan.

Entah kekuatan dari mana, meski telah hamil tua dan gerak terbatas, ia langsung mengangkat ibunya dari tempat tidur dan memapahnya ke luar menuju kerumunan warga. Tak berselang lama, rumah yang mereka tinggali rata dengan tanah.

“Saya sempat menyelamatkan mama saya yang sedang lumpuh di bawa keluar. Saya tidak sadar saya sedang hamil tua, saya teng-teng saja ibu saya ke luar rumah,” tambah Nurhayati.

Aksinya tersebut membuat banyak warga takjub. Setibanya di keramaian warga, ia dan ibunya kemudian di evakuasi dari desa menuju ke dataran tinggi bersama sang suami untuk mengantisipasi gempa susulan.

Setibanya di dataran tinggi, Nurhayati mengaku tak merasa kesakitan atas gerakan-gerakan aktif yang dilakukan saat panik. Bahkan ia merasa bayi di dalam kandunganya tetap tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Namun, saat berada di tenda pengungsian, Nurhayati mulai merasa kesakitan. Ia merasa waktunya telah tiba untuk sang buah hati lahir menghirup udara tanah Donggala. Oleh warga, ia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Undata di Kota Palu. Benar saja, pada Selasa anak pertamanya berjenis kelamin perempuan lahir.

Saat berada di ruang pemulihan gempa-gempa susulan masih saja menghantui dan memberi rasa trauma bagi Nurhayati dan keluarga. Keluarga dan Nurhayati pun memutuskan untuk meminta dirawat di luar rumah sakit, meski dengan tenda sederhana.

“Sebenarnya kita diarahkan lagi agar masuk rumah sakit saja, tapi kita menolak, kita takut gempa susulan. Mending waspada,” ujarnya.

Tangisan-tangisan bayinya di bawah tenda darurat menemani Nurhayati mengisi hari-harinya. Ia merasakan berkat Tuhan melimpah baginya, meski dalam hatinya ia juga menyimpan luka yang sangat dalam lantaran beberapa kerabatnya menjadi korban hilang dan meninggal dunia.

Dari perjalanan kisah itu, Nurhayati dan keluarga besarnya bercita-cita menjadikan putrinya menjadi ahli meteorologi dan geofisika. “Dia harus S2 jurusan BMKG, itu biar bisa tahu gempa-gempa dan menyelamatkan dunia ini,” sambut ibu mertua Nurhayati.

Di bawah tenda biru itu, Nurhayati tersenyum sumringah sembari memeluk putrinya. “Untuk namanya belum ada, tapi kita sekarang manggilnya Putri Gempita,” sahut kerabat Nurhayati sembari tertawa.

Baca Sumber
close